TELEVISI DAN PROBLEMA ANAK KRITIS

pgribjn>Suatu ketika, seorang bocah yang masih berumur lima tahun bertanya kepada ayahnya. ”Tuhan itu ada dimana Ayah..,” tanya sang bocah. Pertanyaan ini sempat mengejutkan sang ayah. Dengan sabar, dia berusaha menjawab pertanyaan itu. ”Tuhan itu ada di mana-mana…,”. ”Berarti ada di kamar?,” tanya si anak, langsung dijawab sang ayah dengan anggukan kepala. ”Ada di kamar mandi?..ada di dekat TV? ada di dapur?,” tanya si anak bertubi-tubi.

Kali ini sang ayah mulai jengkel. Tapi, dia berusaha untuk tetap sabar menjawab pertanyaan anaknya yang mulai kritis itu. ”Ayah…apakah Tuhan juga berada di dalam roti ini?,” tanya si anak, ketika akan menyantap sebuah roti cokelat kegemarannya. Sang ayah sempat tertegun dengan pertanyaan itu. Tak berselang lama, dia menganggukkan kepalanya. Sebelum si anak memakan roti, dia lebih dulu memandanginya. ”Hai Tuhan..menyingkirlah..karena roti ini akan aku makan,”.

Ketika Anak Bertanya Selingkuh Adegan di atas hanyalah ilustrasi, untuk menggambarkan betapa kritisnya anak-anak, ketika otaknya sudah mulai berfungsi menangkap dan mengapresiasi apa saja yang dilihat, didengar dan dirabanya.

Pernahkah Anda sebagai orang tua mendapati pertanyaan yang kritis dari anak-anak? Disadari atau tidak, keberadaan televisi di Indonesia telah memberikan kontribusi terhadap kekritisan anak-anak kita. Suatu ketika saya pernah terhenyak dengan pertanyaan Shindid, nama anak saya yang kini duduk di kelas 1 F SD Al Hikmah. Saat itu dia masih duduk di bangku TK B (nol besar).

Pagi itu, kebetulan hari Minggu, saya sedang baca koran. Tiba-tiba Shindid bertanya kepada saya apa arti dari selingkuh? Kemudian dia juga bertanya soal pelet. Saya pun kaget bukan kepalang. Darimana dia mendapatkan kosa kata yang sebenarnya belum layak untuk mampir di benaknya itu? Usut punya usut, ternyata dia mendapatkan kata-kata tadi dari tayangan infotainment.

Saat itu, sedang gencar-gencarnya diblow-up di infotainment seputar kasus artis Cut Memey yang diam-diam menikah dengan pria beristeri bernama Jacksen Perangin-angin. Dari kasus itulah, muncul kosa kata”pelet” dan ”selingkuh”. Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan selingkuh dan pelet dari anak saya? Sempat juga bingung. Sebenarnya saya tak ingin menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau tidak dijawab, berarti saya secara tidak langsung mematikan kekritisan Shindid. Kalau dijawab, bagaimana saya harus mengolah jawaban agar bisa diterima anak seusia dia?

Akhirnya, saya pilih untuk menjawab pertanyaan itu. Saya katakan kepada dia, pelet itu adalah pekerjaannya dukun. Dan dukun, adalah temannya setan. Lantas, bagaimana dengan selingkuh? Saya katakan kepada Shindid, selingkuh adalah sama dengan perbuatan dosa. Anak saya bertanya lagi, ”Sama dengan mencuri?,” saya jawab ”Ya..hampir sama,”. Setelah Shindid terlihat puas dengan jawaban tadi, saya langsung melakukan ”koordinasi internal” dengan isteri. Saya sempat salahkan dia. Mengapa sampai kecolongan membiarkan Shindid menonton infotainment yang memang tayangnya hampir selalu ada di setiap jam itu.

Sejak saat itulah, kami membuat peraturan yang sangat ketat dalam menonton televisi. Ketika anak saya sedang ada di rumah, kami sepakat untuk seminim mungkin menonton televisi. Kecuali saat hari libur. Itu pun acara yang kami tonton juga selektif. Kami juga membuat jam-jam tertentu, kapan Shindid boleh menonton televisi, dan kapan tidak boleh.

Siaga Satu untuk Telvisi Kalau saja pertanyaan nakal tadi tak muncul dari anak saya, mungkin saya tidak akan benar-benar menyadari, betapa bahayanya beberapa tayangan di televisi kita. Infotainment seringkali lepas kontrol, sehingga kerap menyoal hal-hal yang sebenarnya tabu untuk ditayangkan, apalagi sampai disaksikan anak-anak kita. Cerita-cerita hikmah berbau Islam pun yang belakangan marak di televisi, di antaranya ada yang dikemas dengan judul-judul erotis, sehingga tak jarang menampilkan adegan yang sebenarnya tak layak dipertontonkan di depan anak-anak.

Menyikapi berbagai tayangan di televisi yang tidak layak ditonton itu, sebagai orang tua, harus siaga satu. Anak-anak benar-benar harus diawasi. Ingat, anak-anak masa kini semakin kritis. Sedapat mungkin, orang tua harus mendampingi si anak ketika menonton televisi. Ini yang selalu kami upayakan.

Baru-baru ini, ada sebuah penelitian di Australia yang dilakukan ABC Science Online serta Departemen Pendidikan, Sains dan Latihan di Negara itu. Dalam survey bertajuk National Memory Test itu, lembaga tersebut meneliti 29.500 orang di seluruh wilayah Australia. Salah satu hasil dari penelitian itu disebutkan, terlalu lama menonton televisi, ternyata berpengaruh tidak baik bagi daya ingat seseorang. Tapi, disebutkan pula dalam penelitian itu, TV tak sepenuhnya buruk. Sebab, TV bisa membuat pikiran seseorang menjadi lebih aktif melalui beberapa acara seperti kuis dan berita. Wal akhir, mari kita bersiaga satu dalam menyikapi berbagai tayangan di televisi!! (*)

Suatu ketika, seorang bocah yang masih berumur lima tahun bertanya kepada ayahnya. ”Tuhan itu ada dimana Ayah..,” tanya sang bocah. Pertanyaan ini sempat mengejutkan sang ayah. Dengan sabar, dia berusaha menjawab pertanyaan itu. ”Tuhan itu ada di mana-mana…,”. ”Berarti ada di kamar?,” tanya si anak, langsung dijawab sang ayah dengan anggukan kepala. ”Ada di kamar mandi?..ada di dekat TV? ada di dapur?,” tanya si anak bertubi-tubi.

Kali ini sang ayah mulai jengkel. Tapi, dia berusaha untuk tetap sabar menjawab pertanyaan anaknya yang mulai kritis itu. ”Ayah…apakah Tuhan juga berada di dalam roti ini?,” tanya si anak, ketika akan menyantap sebuah roti cokelat kegemarannya. Sang ayah sempat tertegun dengan pertanyaan itu. Tak berselang lama, dia menganggukkan kepalanya. Sebelum si anak memakan roti, dia lebih dulu memandanginya. ”Hai Tuhan..menyingkirlah..karena roti ini akan aku makan,”.

Ketika Anak Bertanya Selingkuh Adegan di atas hanyalah ilustrasi, untuk menggambarkan betapa kritisnya anak-anak, ketika otaknya sudah mulai berfungsi menangkap dan mengapresiasi apa saja yang dilihat, didengar dan dirabanya.

Pernahkah Anda sebagai orang tua mendapati pertanyaan yang kritis dari anak-anak? Disadari atau tidak, keberadaan televisi di Indonesia telah memberikan kontribusi terhadap kekritisan anak-anak kita. Suatu ketika saya pernah terhenyak dengan pertanyaan Shindid, nama anak saya yang kini duduk di kelas 1 F SD Al Hikmah. Saat itu dia masih duduk di bangku TK B (nol besar).

Pagi itu, kebetulan hari Minggu, saya sedang baca koran. Tiba-tiba Shindid bertanya kepada saya apa arti dari selingkuh? Kemudian dia juga bertanya soal pelet. Saya pun kaget bukan kepalang. Darimana dia mendapatkan kosa kata yang sebenarnya belum layak untuk mampir di benaknya itu? Usut punya usut, ternyata dia mendapatkan kata-kata tadi dari tayangan infotainment.

Saat itu, sedang gencar-gencarnya diblow-up di infotainment seputar kasus artis Cut Memey yang diam-diam menikah dengan pria beristeri bernama Jacksen Perangin-angin. Dari kasus itulah, muncul kosa kata”pelet” dan ”selingkuh”. Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan selingkuh dan pelet dari anak saya? Sempat juga bingung. Sebenarnya saya tak ingin menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau tidak dijawab, berarti saya secara tidak langsung mematikan kekritisan Shindid. Kalau dijawab, bagaimana saya harus mengolah jawaban agar bisa diterima anak seusia dia?

Akhirnya, saya pilih untuk menjawab pertanyaan itu. Saya katakan kepada dia, pelet itu adalah pekerjaannya dukun. Dan dukun, adalah temannya setan. Lantas, bagaimana dengan selingkuh? Saya katakan kepada Shindid, selingkuh adalah sama dengan perbuatan dosa. Anak saya bertanya lagi, ”Sama dengan mencuri?,” saya jawab ”Ya..hampir sama,”. Setelah Shindid terlihat puas dengan jawaban tadi, saya langsung melakukan ”koordinasi internal” dengan isteri. Saya sempat salahkan dia. Mengapa sampai kecolongan membiarkan Shindid menonton infotainment yang memang tayangnya hampir selalu ada di setiap jam itu.

Sejak saat itulah, kami membuat peraturan yang sangat ketat dalam menonton televisi. Ketika anak saya sedang ada di rumah, kami sepakat untuk seminim mungkin menonton televisi. Kecuali saat hari libur. Itu pun acara yang kami tonton juga selektif. Kami juga membuat jam-jam tertentu, kapan Shindid boleh menonton televisi, dan kapan tidak boleh.

Siaga Satu untuk Telvisi Kalau saja pertanyaan nakal tadi tak muncul dari anak saya, mungkin saya tidak akan benar-benar menyadari, betapa bahayanya beberapa tayangan di televisi kita. Infotainment seringkali lepas kontrol, sehingga kerap menyoal hal-hal yang sebenarnya tabu untuk ditayangkan, apalagi sampai disaksikan anak-anak kita. Cerita-cerita hikmah berbau Islam pun yang belakangan marak di televisi, di antaranya ada yang dikemas dengan judul-judul erotis, sehingga tak jarang menampilkan adegan yang sebenarnya tak layak dipertontonkan di depan anak-anak.

Menyikapi berbagai tayangan di televisi yang tidak layak ditonton itu, sebagai orang tua, harus siaga satu. Anak-anak benar-benar harus diawasi. Ingat, anak-anak masa kini semakin kritis. Sedapat mungkin, orang tua harus mendampingi si anak ketika menonton televisi. Ini yang selalu kami upayakan.

Baru-baru ini, ada sebuah penelitian di Australia yang dilakukan ABC Science Online serta Departemen Pendidikan, Sains dan Latihan di Negara itu. Dalam survey bertajuk National Memory Test itu, lembaga tersebut meneliti 29.500 orang di seluruh wilayah Australia. Salah satu hasil dari penelitian itu disebutkan, terlalu lama menonton televisi, ternyata berpengaruh tidak baik bagi daya ingat seseorang. Tapi, disebutkan pula dalam penelitian itu, TV tak sepenuhnya buruk. Sebab, TV bisa membuat pikiran seseorang menjadi lebih aktif melalui beberapa acara seperti kuis dan berita. Wal akhir, mari kita bersiaga satu dalam menyikapi berbagai tayangan di televisi!! (*)

~ by pgribojonegoro on October 7, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: